Home
 Program
 Publikasi
 Ruang Berita
 Tentang Kami
ARTIKEL...

 

Leuser, Warisan Dunia

 

Oleh: Ir. Wiratno,M.Sc *)

 

"Harta" yang terpendam di bumi Leuser akhirnya diakui sebagai Warisan (Alam) Dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) pada tahun 2004. Proses untuk menjadi Warisan Dunia (atau disebut sebagai World Heritage) ini dilakukan atas usulan pemerintah Indonesia kepada salah satu PBB yang bermarkas di Paris tersebut. Seperti biasanya, banyak pertanyaan kritis dan sebagian juga sinis mengenai diakuinya Leuser ini sebagai Warisan Dunia. Untuk apa dan apa manfaatnya bagi Indonesia? Apakah kebijakan ini sekedar "ikut-ikutan" trend global, yang berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan global? Atau ada cerita di balik kebijakan pemerintah ini? Penunjukan Leuser dilakukan dalam satu paket bersama TN.Kerinci Seblat, dan TN.Bukit Barisan Selatan, dengan nama : "Tropical Rainforest Heritage of Sumatra". Dengan menjadi Warisan Dunia, maka Leuser sejajar dengan Yellowstone dan Grand Canyon National Park di Amerika yang terkenal itu, Galapagos di Equador, The Great Wall di China, Taj Mahal di India, dan seterusnya.

Sejarah
Konvensi Warisan Dunia mengenai Perlindungan Warisan Budaya dan Alam diadopsi dari Konferensi Umum pada Sidangnya yang ke 17 yang diselenggarakan di kantor pusat UNESCO di Paris, Perancis pada tanggal 16 November 1972, dan berlaku efektif sejak tanggal 17 Desember 1975. Konvensi tersebut melengkapi program-program konvensi di tingkat nasional dan mendukung pembentukan Komite Warisan Dunia dan Dana Warisan Dunia. Sampai dengan bulan Maret 2005, Konvensi Warisan Dunia telah diratifikasi oleh lebih dari 180 negara. Dan pada Juli 2005, terdapat 812 propertis yang telah tercantum di dalam Daftar Warisan Dunia, terdiri dari 628 situs budaya, 160 situs alami dan 24 situs campuran yang berasal dari 137 negara anggota.

Pengertian 'Warisan Dunia' menurut UNESCO (2004) memuat hal-hal sebagai berikut: (1) Warisan dunia dapat terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) Melestarikan warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki "Nilai Universal Istimewa", (3) Perlu melindungi Warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggungjawab kesadaran dan kerjasama kolektif internasional.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Warisan Dunia melalui Keputusan Presiden No.29, pada bulan Juli 1989. Sampai saat ini, Indonesia telah memiliki 9 situs yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia. Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), dan situs arkeologis Sangiran (1996) termasuk dalam Situs Warisan Budaya. Untuk Situs Warisan Alam, ditetapkan TN. Ujung Kulon (1991), TN.Komodo (1991), TN. Lorentz (1999) dan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra, yaitu hutan hujan tropis Sumatera yang terdiri dari tiga taman nasional, yaitu TN.Gunung Leuser, TN. Kerinci Seblat dan TN.Bukit Barisan, pada tahun 2004. Ketiga kawasan ini tercantum dalam Daftar Kelompok Situs Warisan Dunia pada Sidang ke 28 Komite Warisan Dunia di Suzhou, Cina, pada tanggal 27 Juni sampai 7 Juli 2004.

Nilai Leuser

a. Keragaman Hayati

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan suaka tropis terbesar dan terkaya di dunia. MacKinnon dan MacKinnon (1986) menilai TNGL memiliki skor tertinggi di antara kawasan konservasi di seluruh Indo-Malaya. TNGL merupakan habitat dari sejumlah besar spesies fauna mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibi, ikan, dan invertebrate. Kawasan ini memiliki daftar spesies burung yang panjang, dimana dari 380 spesies burung yang ada (65% dari total jumlah spesies burung di seluruh Pulau Sumatera), 350 di antaranya tinggal di kawasan ini. Di TNGL juga terdapat 36 dari 50 jenis burung endemik di Sundaland. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari total 205 spesies (mamalia besar dan kecil) di Sumatra tercatat tinggal di taman nasional ini. TNGL merupakan habitat dari orang utan Sumatra (Pongo abelii), harimau Sumatran (Panthera tigris), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), siamang (Hylobathes lar), leaf monkey (Presbytis thomasi) dan lain-lain.

Stasiun Riset Orang utan di Ketambe, Aceh Tenggara merupakan stasiun riset tertua di dunia (didirikan pada tahun 1971) dan tempat paling penting untuk penelitian primata khususnya orang utan. Dari Ketambe yang dibangun pertama kali oleh H.D. Rijksen itulah kemudian lahir beberapa tokoh dan pakar orang utan dunia, antara lain C.P. van Schaik, J. Sugardjito, Jatna Supriatna, Barita O Manullang, dan Suci Utami. Selanjutnya van Schaik membangun stasiun riset orangutan Suaq Belimbing di Aceh Selatan pada tahun 1998.

Pentingnya kawasan ini dibuktikan dengan ekspedisi van Steenis tahun 1937, dan dilanjutkan dengan ekspedisi-ekspedisi lainnya, membuktikan kayanya keragaman hayati taman nasional ini. Tidak kurang dari 4.000 spesies tumbuhan dapat dijumpai, termasuk yang paling fenomenal adalah ditemukannya 3 dari 15 tanaman parasit yang terkenal, yaitu jenis Rafflesia. TNGL juga habitat jenis bunga tertinggi di dunia yaitu Amorphophalus titanum (Whitten et al., 1997). Komposisi vegetasinya tersebar dalam beberapa zonasi (menurut ketinggian dari permukaan laut), yaitu Coastal Vegetation, Tropical Zone (0-1000 m), Colline Sub-Zone, (500-1000 m), Submontane Zone (1000-1500 m), Montane Zone (1500-2400 m), Subalpine Zone (2400-3400 m), Mountain Blang Vegetation (2600-3000 m), dan Anthropogenic Vegetatinon. Selain itu, taman nasional ini juga tempat yang penting sebagai habitat tumbuhan obat (Brimacombe & Elliot, 1996).

b. Sumberdaya Air

TNGL merupakan hulu dari 10 daerah aliran sungai (DAS), yaitu Sei Wampu, Sei Lepan, Sei Besitang di Propinsi Sumut; Lawe Alas, Kr.Kluet, A.Simpang Kanan, Kr.Tripa, Kr.Baru, Kr.Susok, dan Kr.Batee di Propinsi NAD. Kesepuluh DAS ini menyediakan suplai air bagi sekitar 4 juta masyarakat yang tinggal di NAD maupun Sumatra Utara.

Hampir 11 kabupaten tergantung pada jasa lingkungan TNGL, yaitu jasa berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah, pengendali banjir, dan sebagainya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Beukering, dkk (2003), Nilai Ekonomi Total TNGL dihitung dengan suku bunga 4% selama 30 tahun adalah USD 7.0 milyar (bila terdeforestasi), USD 9.5 milyar (bila dikonservasi), dan USD 9.1 milyar (bila dimanfaatkan secara lestari).

Posisi Strategis Leuser di Tataran Global

Berdasarkan Studi Myers, suatu kawasan bisa disebut sebagai hotspot bila memiliki minimal 1,500 spesies tumbuhan.endemik. Studi ini menggunakan 0,5% dari total tumbuhan vaskuler endemik di seluruh dunia. Perhitungan lain penentuan hotspot adalah; bila suatu kawasan memiliki habitat alami kurang dari 30% dari kondisi awal tumbuhan tersebut, maka kawasan itu termasuk hotspot. Di samping tumbuhan, informasi mengenai hewan juga dimasukkan sebagai faktor penentu dan yang paling lengkap informasinya adalah burung, mamalia, reptil, dan ampibi.

Saat ini, Conservation International telah mengidentifikasi 25 kawasan hotspot di seluruh dunia. Semula, kawasan ini merupakan habitat alami seluas 17 juta km2 atau 11,8% dari permukaan bumi. Sekarang, kawasan ini telah kehilangan habitat alaminya hingga 88% dan hanya tersisa seluas 2,13 juta km2 atau 1,4% dari luas permukaan bumi. Walaupun luasannya terbatas, kawasan ini merupakan habitat bagi 43,8% seluruh spesies tumbuhan endemik di bumi dan merupakan habitat 35,4% dari seluruh vertebrata non ikan endemik.

Secara global, hanya 884.904 km2 hotspot (0,7% dari luas permukaan bumi) terletak di kawasan yang dilindungi. Hal ini berarti lebih dari 50% kawasan bervegetasi yang masih utuh di kawasan hotspot saat ini tidak memperoleh berbagai bentuk perlindungan. Di kawasan hotspot ini ditemukan lebih dari 57% endangered mammals dan lebih dari 81% endangered bird. Lima belas dari 25 hotspot terdapat di kawasan hutan hujan tropis. Dua hotspot terdapat di Indonesia, yaitu Sundaland Hotspot dan Walacea Hotspot.

Kawasan Sundaland Hotspot meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan. Kawasan TNGL dan kawasan lindung di sekitarnya (yang disebut sebagai Ekosistem Leuser), merupakan salah satu dari kawasan Hotspot di Sumatra. Inilah posisi strategis TNGL dalam kancah konservasi global.

Warisan Dunia sebagai Global Network

Kembali pada pertanyaan awal tentang manfaat ditetapkannya TNGL sebagai salah satu dari 812 Warisan Dunia yang tersebar di 180 negara di seluruh dunia. Salah satu manfaat yang sangat strategis adalah kita harus dapat memanfaatkan jaringal global ini untuk upaya pelestarian TNGL. Dan hal ini sangat tergantung pada tingkat keseriusan site manager untuk menggalang dukungan internasional. Dengan perubahan-perubahan yang dilakukan sejak awal tahun 2005 misalnya, Balai TNGL telah berhasil mendapatkan dukungan dari World Heritage Center di Paris dan Pemerintah Spanyol, melalui UNESCO Jakarta Office. Semua dukungan tersebut diinvestasikan ke dalam TNGL dalam berbagai bentuk penguatan kapasitas kelembagaan dan dukungan infrastruktur yang selama ini sangat lemah. Nampaknya, taman-taman nasional yang secara global diakui dan masuk ke dalam jaringan global, seperti Cagar Biosfer atau Warisan Dunia ini harus dikelola secara profesional, dengan menggunakan network sebagai kendaraan untuk mendorong terbangunnya leadership dan manajemen yang lebih efektif. Oleh karena itu, Balai TNGL akan terus membangun berbagai inisiatif kolaborasi di seluruh tingkatan. Ditunjuknya TNGL sebagai salah satu dari 20 Taman Nasional Model di seluruh Indonesia, yang akan dimulai tahun 2007, merupakan bukti komitmen pemerintah, c.q. Departemen Kehutanan, dalam merespon perkembangan pengelolaan TNGL dan terkait dengan status TNGL sebagai Warisan Dunia.

Jaringan global yang terdiri dari berbagai pakar ini juga dapat dijadikan kendaraan untuk negosiasi kebijakan, khususnya kebijakan yang kurang memihak atau bertentangan dengan kebijakan konservasi. Jaringan global juga dapat berfungsi sebagai sarana kampanye global yang sangat efektif sekaligus juga watchdog terhadap persoalan-persoalan di site, untuk diangkat ke skala global, agar menjadi perhatian komunitas global. Pembangunan jalan Ladiagalaska yang memotong Ekosistem Leuser, misalnya, segera menjadi perbincangan global karena diperkirakan dampaknya merusak dan berpengaruh langsung pada keselamatan TNGL. Ratusan pakar primata alumni Stasiun Riset Ketambe sejak 30 tahun lalu, yang tersebar di seluruh dunia, sampai saat ini masih peduli akan keselamatan dan kelestarian bukan saja stasiun risetnya, tetapi juga isu-isu seputar TNGL. Global network dan collective awareness seperti inilah yang harus dijadikan sebagai sarana untuk mempertahankan TNGL di masa depan. Kolaborasi dan network merupakan modal sosial dan kendaraan organisasi untuk menyongsong masa depan konservasi,yang semakin penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. ***

*) Kepala Balai Taman Nasional Gunung Leuser

Email: inung_w2000@yahoo.com

Referensi:

Van Schaik,C. Jatna,S. 1996. Leuser, A Sumatran Sanctuary. Yayasan Bina Sains Hayati Indonesia. Jakarta.

Government of Indonesia. 2004. Sumatran Tropical Rainforests Cluster Nomination. PHKA. Jakarta




:: Copyright © 2005 - 2007 :: Developed by BTNGL .........................................................................Support by SOS-OIC