a. Orangutan (Pongo abelii)
Sebaran orang utan di Sumatera bagian utara,
menurut YLI dan SCOCP (2005) terdapat di 7 wilayah, yaitu
West-Leuser & West-Middle Aceh Block dengan populasi (2.611);
Trumon-Singkil (1.500); East Leuser & East-Middle Aceh Block
(1.389); Nort-West Aceh & North-East Aceh (834); West Batang
Toru (400); Tripa Swamp (280); East Sarulla (150); dan Sidiangkat
(134).
b. Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
Badak sumatera beradaptasi dengan baik untuk
hidupnya di kawasan hutan pegunungan yang padat. Catatan sejarah
menyatakan bahwa keberadaan Badak sumatera ini terdapat di
hampir seluruh wilayah-wilayah terpencil di Sumatera, dan
TN.Gunung Leuser merupakan tempat dengan dokumentasi yang
baik (Van Strien in Jatna dkk., 1996). Dijelaskan bahwa di
masa lalu, Badak sumatera dapat dijumpai di hampir seluruh
penjuru taman nasional, di lembah-lembah maupun di pegunungan,
sepanjang pantai barat, dan daratan rendah di Langkat dan
Deli. Peruruan badak merupakan profesi tua di Aceh, dan di
beberapa desa dikenal sebagai desa pemburu badak yang terkenal.
Ketika survai pertama kali dilakukan di Gunung
Leuser pada tahun 1930an, badak sudah menjadi langka di wilayah
utara Gunung Leuser di dekat Blangkejeren, yang dikenal sebagai
pusat pemburu badak. Kecenderungan akan penurunan populasi
badak ini terus berlanjut, dan ketika proyek penelitian badak
dari seorang ahli zoology Swiss-Marcus Borner lalu dilanjutkan
oleh Nico van Strein pada awal 1970an, badak telah menghilang
dari seluruh batas taman nasional. Hanya terdapat satu wilayah
di pusat taman nasional yang dapat dicapai melalui udara atau
mengikuti jalur jelajah gajah memotong kawasan bergunung-gunung
di Lembah Mamas. Nico van Strein melakukan penelitian badak
di wilayah ini pada tahun 1975.
Dalam jangka waktu studi 358 hari di Lembah
Mamas, 4.000 km jalan patroli telah dilalui dan lebih dari
600 casts telah dibuat pada 360 jalur jelajah badak. Disimpulkan
telah ditemukan tidak kurang dari 39 individu badak, 12 individu
diantaranya adalah anak badak yang lahir pada masa studi.
Di lembah Mamas juga diprediksi bahwa kepadatan individu diperkirakan
1 badak/800 hektar, dan ini adalah jumlah yang maksimum yang
dapat didukung oleh kondisi di Gunung Leuser, dan sangat mungkin
merupakan ukuran untuk badak pegunungan di seluruh Sumatera.
Sedangkan daerah jelajah badak jantan dapat mencapai areal
hutan seluas 2.500-3.000 hektar, sedangkan badak betina pada
luasan 1.000-1.500 hektar, yang umumnya berpusat pada tempat
mengasin (saltlick area).
c. Harimau Sumatera (Panthera tigris
sumatrae)
Harimau dijumpai pada kawasan pantai sampai
dengan ketinggian 2.000 m dari permukaan laut, baik di hutan
sekunder maupun primer. Mereka lebih suka di perbatasan hutan
di mana banyak dijumpai hewan pakannya seperti babi hutan.
Harimau adalah spesies paling terancam oleh perburuan illegal
dengan menggunakan racun. Perburuan yang berulang-ulang akan
menurunkan populasinya, bahkan populasi yang jauh di dalam
taman nasional.
Menurut Griffiths (1999), populasi harimau
di TN.Gunung Leuser pada tahun 1992 diperkirakan mencapai
100 individu. Jumlah ini diduga merupakan separuh dari jumlah
populasi 6 tahun sebelumnya. Predator seperti harimau ini
merupakan komponen dari ekosistem hutan hujan dataran rendah
di TN.Gunung Leuser. Peranannya sebagai predator terhadap
hama babi hutan, membantu para petani yang tinggal di sekitar
taman nasional, dari kegagalan panennya akibat serangan babi
hutan. Harimau juga akan membantu menjaga keseimbangan populasi
babi hutan pada tingkat yang stabil. Kerugian akibat serangan
hama babi hutan ini besarnya equivalent dengan 30 kambing
per tahun, seperti yang pernah terjadi di Desa Jambo Dalim,
sebelah selatan TN.Gunung Leuser.
d. Gajah Sumatera (Elephas maximus)
Tipe gajah di Taman Nasional Gunung Leuser
merupakan sub-species dari gajah Asia, yaitu Elephas maximus
sumatranus. Semula jalur jelajahnya meliputi hampir seluruh
Sumatera, namun beberapa puluh tahun terakhir jalur jelajahnya
menyempit, di wilayah-hutan yang terputus-putus yang bisa
mendukung populasi yang tersebar. Di TN. Gunung Leuser, tak
ada satu jalur jelajahpun yang cukup terlindungi.
Gajah sumatera ini menyukai habitat di hutan
hujan dataran rendah dengan drainase tanah yang baik tetapi
dengan dukungan suplai air yang mencukupi. Kawasan di bawah
ketinggian 1.000 meter dpl inipun juga harus memiliki cadangan
makanan yang disukai gajah, yaitu bambu, rumput liar, liana,
kulit pohon tertentu, dan beberapa jenis buah tertentu, seperti
durian, mangga, dan cempedak. Suplai yang menurun dari berbagai
jenis makanan tersebu akan berdampak pada pola breeding, kerentanan
pada penyakit, dan kematian. Oleh karena itu, dengan berkurangnya
luas hutan hujan dataran rendah, akan langsung mengancam keberadaan
Gajah Sumatera ini.
Populasi Gajah di TN. Gunung Leuser diprediksi
sebanyak 160-200 individu, dan populasi ini terpisah dalam
beberapa kelompok, dengan harapan terjadinya interbreeding
yang kecil, masa depan populasinya tidak begitu menggembirakan.
Menurut Griffiths (1999), dengan memberikan cukup perlindungan
dan koridor yang tepat akan membantu menjaga masa depan gajah
Sumatera ini lebih baik, antara lain dengan melakukan perlindungan
daerah jelajahnya di dalam taman nasional. Khususnya daerah-daerah
hutan hujan dataran rendah yang merupakan daerah jelajah kelompok-kelompok
gajah tersebut. Daerah jelajah awal dari populasi gajah di
TN. Gunung Leuser, meliputi kawasan Sekundur di Langkat, menuju
jalur jelajahnya sampai di Kappi dan memotong enclave Gumpang
dan Marpunge menuju lembah Alas, Muara Situlen, dan berakhir
di sekitar Lawe Bengkung sampai sebelah barat Kluet. *** (Sumber:
Renstra TNGL)