DOLLY
PRIATNA (Leuser Management Unit), KUSWATA KARTAWINATA
(UNESCO Office Jakarta, Regional Science Bureau for Asia
and the Pacific), ROCHADI ABDULHADI (Herbarium Bogoriense,
Pusat Penelitian Biologi, LIPI).
ABSTRAK
PRIATNA, D.; KARTAWINATA, K; ABDULHADI,
R. 2004. -- Pemulihan hutan pamah dipterocarpaceae 22
tahun setelah tebang pilih di Sekundur, Taman Nasional
Gunung Leuser, Sumatra Utara, Indonesia. Reinwardtia 12(3):
237-255. - Sebuah petak permanen seluas dua hektar dalam
hutan pamah yang ditebang-pilih tahun 1978 dibuat dan
ditelah pada tahun 1982 di Sekundur, Taman Nasional Gunung
Leuser, Sumatera Utara. Petak tersebut diteliti ulang
pada tahun 2000; semua pohon dengan diameter setinggi
dada =10 cm, ditandai, diukur diameter dan tingginya dan
diidentifikasi. Luas fase-fase rumpang, membangun dan
matang dalam kanopi diukur dan dipetakan. Dalam petak
ini tercatat 133 jenis, 87 marga dan 39 suku, dengan jumlah
pohon sebanyak 1145 atau kerapatan 572.5 pohon/ha. Euphorbiaceae
merupakan suku terkaya dengan 18 jenis (13.5 % dari semua
jenis) dan jumlah pohon sebanyak 248 (21.7 % dari total)
atau kerapatan 124 pohon/ha. Suku yang paling penting
adalah Dipterocarpaceae (Nilai Penting, NP = 52.0), diikuti
oleh Euphorbiaceae (NP = 51.8). Jenis yang paling menonjol
adalah Shorea kunstleri (Dipterocarpaceae) dengan NP =24.4,
diikuti oleh Macaranga diepenhorstii (Euphorbiaceae) dengan
NP = 12.4, dan dua jenis ini mempunyai kerapatan tertinggi,
masing-masing 34 pohon/ha and 23.5 pohon /ha. Selama 18
tahun tidak terdapat pergeseran suku-suku terkaya dan
terpenting serta jenis-jenis terpenting. Euphorbiaceae
merupakan suku terkaya dan Dipterocarpaceae suku terpenting,
dengan Shorea kunstleri sebagai jenis terpenting
selama 18 tahun ini. Jumlah jenis bertambah dari 127 menjadi
133 dengan peningkatan kerapatan sebanyak 36.8 %, yaitu
dari 418.5 pohon/ha menjadi 572.5 pohon/ha. Mortalitas
tercatat 25.57 % atau 1.4 % per tahun. Sebaran kelas diameter
menunjukkan bahwa pemulihan hutan belum lengkap. Sebagian
besar pohon-pohon berukuran kecil; 67.6 % termasuk kelas
diameter 10-20 cm dan hanya dua pohon yang mempunyai diameter
> 100 cm, yaitu Melanochyla caesia and Lithocarpus
urceolaris. Berdasarkan luas
bidang dasar semua jenis, hutan bekas pembalakan ini akan
mencapai kondisi seperti hutan primer yang tidak terganggu
dalam waktu 56 tahun setelah pembalakan, tetapi berdsarkan
luas bidang dasar Dipterocarpaceae pemulihan ini memerlukan
waktu 172 tahun. Kanopi hutan belum sepenuhnya pulih dan
penutupan rumpang spenuhnya diperkirakan memerlukan waktu
53 tahun sejak hutan dibalak. Kanopi terdiri
atas fase rumpang (24.6 %), fase membangun (19.7 %) dan
fase matang (55.7 %). Selama 18 tahun mortalitas mencapai
25.57 % atau laju mortalitas 1.4 %/tahun dan tidak ada
mortalitas dalam 44.1 % dari jenis. Penambahan pohon baru
tercatat sebanyak 520 pohon yang termasuk16 jenis. Sebanyak
53 % dari semua jenis, kerapatannya mengalami perubahan
hanya satu pohon atau sama sekali tidak mengalami perubahan.
Jumlah pohon yang meningkat drastis terjadi pada jenis-jenis
yang memerlukan cahaya, seperti Baccaurea kunstleri,
Endospermum diadenum, Mallotus penangensis, Sapium baccatum
and Macaranga diepenhorstii. ***